Monday, April 18, 2005

Diskriminasi Pendidikan

Diambil dari pendidikanmurah
---------------------------------------------------------------

Rasa-rasanya rasa muakku sudah sampai pada puncaknya.

Setelah membaca rubrik Humaniora di harianKompas edisi hari ini, aku menjadi semakin jengkelsaja dengan kebijakan sistem pendidikan di Indonesia yang kian lama kian wagu saja. Akhir-akhir ini rubrik Humaniora Kompas memang banyak menyoroti tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Diawali dengan pemberitaan mengenai ide cemerlang dari salah seorang ketua RW di salah satu desa di Sala Tiga yang dengan kreatifnya menggagas sebuah sekolah alternatif untuk siswa SLTP dengan konsep sekolah terbukanya sampai pada kegilaan mungkin lebih tepat jika disebut kebodohan dari pemerintah mengenai rancangan sistem jalur pendidikan yang baru.

Dalam sistem pendidikan yang baru ini pemerintah akan membagi jalur pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu.

Dengan kata lain jalur formal mandiri adalah jalur bagi siswa kaya sedangkan jalur formal standar adalah jalur bagi siswa miskin. Konyol memang. Aku sampai tidak habis pikir bisa-bisanya pendidikan dikotak-kotakkan berdasarkan tingkat fianansial dari peserta didik. Dalam hal ini, pemerintah berdalih bahwa pada jalur formal mandiri akan disediakan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu miskin agar dapat menuntut ilmu pada jalur ini. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah Berapa banyak sich beasiswa yang disediakan?.

Pemerintah sendiri menyatakan bahwa setidaknya akan ada lima persen siswa miskin yang bersekolah di setiap sekolah yang menyelenggarakan jalur formal mandiri. Menurut ku ini juga merupakan salah satu bentuk kebodohan yang lain. Coba saja kita bayangkan seandainya ada seorang siswa miskin yang memperoleh beasiswa untuk bersekolah di jalur formal mandiri yang nota bene tempat sekolahnya siswa kaya. Bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi minder dan rendah diri. Ketika teman-temannya selalu mengenakan seragam yang bersih dan tersetrika dengan rapi dengan menggunakan pelembut dan pewangi pakaian sedangakan siswa miskin ini hanya mampu mengenakan seragam bekas alias hibahan dari tetangganya, bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi objek tontonan bagi siswa-siswa kaya?

Apakah pembagian jalur pendidikan ini merupakan salah satu misi pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Menurutku, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi bangsa kita dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Aku cukup salut dengan pemerintah Kamboja dan Thailand yang mulai berbenah diri dengan berfokus pada pendidikan warga negaranya. Kedua negara ini mulai merintis pendidikan gratis bagi warga nya. Pemerintah Kamboja sendiri mulai mengalihkan sembilan belas persen dari total anggarannya yang biasanya digunakan sebagai angaran militer untuk mendukung pengembangan pendidikan.

Lantas bagai mana dengan visi dan misi pendidikan di Indonesia? Mau dibawa ke mana pendidikan di Negara kita? Apakah pendidikan sudah menjadi barang dagangan yang nantinya menghasilkan outputan berupa selembar sertifikat dan ijazah bukannya keahlian dan daya analitis? Dan apakah pendidikan hanya menjadi milik dan hak orang kaya saja?

Apakah memang orang miskin dilarang sekolah?

11 Comments:

Blogger Aditya Agustyana said...

Ya orang miskin dilarang SEKOLAH..., jadi gmn neeeh, mendingan REVOLUSI AJA LAH SEKALIAN

4:41 PM  
Blogger Pendidikan Indonesia said...

yupe..kaya'nya mesti revolusi...minimal revolusi dalam bidang pendidikan :-)

1:49 PM  
Anonymous Anonymous said...

gue rasa ye....jika terus kayak gini. Indonesia ndak akan pernah maju

6:11 AM  
Anonymous Effiza said...

Iy, sya mrgukan.
Pa kh amanat knstitusi mngenai stp wrga ngara brhak mndpatkan pnddikan yg Lyak uda bejLan sbgmna mstina.
Dan sya rsa bner qta hrz revolusi.
Ayo qta cptakan REVOLUSI,, s_gx2na pendididkan. Krna pndidikan sLah1 yg mnentukan existensa dpan. Mri pmuda Indonesia bersatu ciptakan REVOLUSI tx bmi prtiwi yg kian mmprihatinkn.

10:40 PM  
Anonymous Anonymous said...

parlu adanya pemerataan pendidikan yang secara perundangn ada tpi g'da pelaksanaan di lapangan,.,

8:22 PM  
Anonymous ino putro said...

pemerintah kurang memperhatikan sektor pendidikan,,
padahal disana banyak anak bangsa yang sebenarnya bisa!!

5:17 AM  
Anonymous guru profesional said...

mantab

11:42 PM  
Blogger Bio Sanjaya said...

suka-suka

11:42 PM  
Anonymous Penerjemah Bahasa Jerman said...

wah wah wah,, ini mah udh ngga bner, msa hrus dibedakan kya gitu sih. KACAU!

2:33 AM  
Anonymous nenden said...

postingan yang bermanfaat,semoga bermanfaat juga untuk masyarakat luas.
bila ada waktu kunjungi juga blog saya di http://imaniar.blog.stisitelkom.ac.id/
Terimakasih :)

11:23 PM  
Anonymous http://asuransipendidikankita.blogspot.com/ said...

Ha...ha...ha..bukankah katanya anggaran disediakan 20% untuk pendidikan di Indonesia? Apakah makin murah? apalagi gratis?! Pendidikan di Indonesia makin mahal! Jadi kemana anggaran yang 20% itu??? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

9:48 AM  

Post a Comment

<< Home